Text
Pilihan Puisi : Efrosina
Ketika bangun pagi sekali. pada suatu hari. aku takjub ilalang tumbuh sepanjang betisku. Tubuhku kecut dan pasi, hujan menyiram rambutku semalaman; seseorang bermuka pucat bermahkota cahaya ke dalam cawan menuangkan cairan merah bagai anggur, seperti darah: "Untuk kesehatan kita." Kami pun bersulang, aku bersulang, dengan murung. Tapi demi Tuhan, demi dia, wajahnya jelita dan jenaka. Aku teringat ibu, lalu kutanyakan padanya telah ia lihatkah pohon di sorga muasal semua penderitaan manusia. Namun ibu tersayang terlalu jauh dan seruanku begitu rendah. Angin keras dan riuh, tersesat aku di entah. Andaikan firdaus, seandainya inferno, dapat diukur dengan kilo jaraknya dan jarum jam berputar sebaliknya. Barangkali aku menangis, ya, sendirian, bermalam-malam. Keningku rekat ke marmar, jiwaku memar.
Tidak tersedia versi lain