Puisi sering dilihat sebagai karya seni yang pemahamannya menuntut pembaca mengerutkan kening. Tetapi Hartojo Andangdjaja, dengan kekhasan gaya bahasanya yang lugas dan jernih, dalam buku ini seakan-akan menolak anggapan semacam itu. Esai-esainya di sini yang lebih bersifat apresiatif daripada teoritis, banyak memberi penjelasan tentang puisi, baik bentuk maupun kandungan isi di dalamnya.
Dua ekor kuda menarik gerobak dengan sekuat-kuat tulangnya, tergelincir kukunya dalam lumpur yang licin di pekarangan sebuah rumah besar, lalu tersungkur lutut kakinya yang sebelah ke muka tanah; kedua binatang itu pun tersimpuh, sedang tukang gerobak itu menunduk menumpu bom dan berseru dengan suara lengking.