Lucu..." "Apanya yang lucu?" tanya kawannya yang berkacamata dengan nada bosan, seperti ingin sekadar mengisi udara yang kosong dengan bacotnya. Ia menelungkup karena bokongnya yang penuh bilur-bilur itu tak mampu menyanggah tubuhnya lagi. Keringat asin bercampur bau anyir darah yang mulai mengering masih tersisa di ujung penciumannya.
Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat ini adalah buku kumpulan cerita pendek Asrul yang pertama, berisi sepuluh buah cerita pendek, di antaranya yang telah terkenal berjudul "Bola Lampu", "Sahabat Saya Cordiaz", "Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat" dan lain-lain. Cerita-cerita pendeknya mencerminkan betapa halus perasaannya kepada manusia; melukiskan kehidupan dan sifat-sifat manusia yang hanya me…
"Seniman pura-pura" inilah keajaiban itu, dan merupakan sembilan puluh lima persen yang disorort oleh H. Misbach Yusa Biran dalam buku ini. Mereka adalah orang yang mengaku diri seniman untuk menutupi ke-"gelandangan"-nya, penganggur-penganggur malas yang di atas kedekilannya memasang etiket mentereng: seniman. "....... di balik keanehan-keanehan gerak, omongan dan perjuangan tokoh-tokoh dal…
Kumpulan cerpen di dalam buku ini ditulis oleh A.A. Navis seorang sastrawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia. Pemikirannya yang kritis dapat dijadikan sebuah otokritik bagi setiap pemeluk agama di Indonesia dan manapun juga. Silahkan bercermin pada cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan ini. Lalu putuskan, apakah kita akan menarik hikmah dan manfa…
Cerpen dalam Kalimati ini cukup mampu menjadi sarana pengingat bangsa Indonesia akan kondisi masa lalu. Di kala Bangsa Indonesia berusaha keluar dari hegemoni kekuasaan yang represif, berusaha maju untuk mencapai civil society yang menjamin hak-hak sipil dan segenap unsur bangsa Indonesia lainnya, ada sebagian masyarakat yang ingin kembali ke masa lalu, hidup dalam cengkraman penguasa yang tiran.